Kamis, 26 Maret 2020

Solusi Pembelajaran Daring Di Tengah Keterbatasan


Tugas 9 Pelatihan Menulis Online KSGN

Tema : Media Pembelajaran Daring untuk Sekolah Desa dan Kota
Narasumber : Om Jay

Beberapa bulan ini, virus corona baru atau covid-19 telah menyebar ke berbagai negara. Virus yang diduga berasal dari Wuhan, Tiongkok ini telah menimbulkan banyak korban jiwa dan menginfeksi lebih dari ratusan ribu jiwa.

Di Indonesia, virus ini mulai menyebar pada awal Maret 2020. Saat itu Pak Jokowi bersama Menteri Kesehatan melakukan konferensi pers dan menyatakan bahwa ada dua warga Negara Indonesia yang telah terinfeksi virus covid-19. Semakin hari korban yang terinfeksi di Indonesia menunjukkan peningkatan yang mengkhawatirkan. Bahkan beberapa diantaranya telah meninggal dunia.

Di Jakarta sendiri tempat saya saat ini tinggal, korban yang terinfeksi paling banyak diantara provinsi lainnya di Indonesia. Hal ini membuat Pak Anies selaku Gubernur Provinsinsi DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sekolah baik formal maupun non formal. Kemudian langkah tersebut diikuti dengan pemberlakuan Home Learning atau pembelajaran di rumah bagi siswa. Berbagai media daring mulai dari whatsapp, google form, quizizz, kahoot, google classroom dan lainnya mulai banyak digunakan kembali oleh para guru.

Virus covid-19 ternyata juga mulai menyebar ke berbagai daerah di luar Provinsi DKI Jakarta. Hal itu menyebabkan beberapa daerah juga mulai diberlakukan kebijakan serupa untuk meliburkan kegiatan sekolah.

Bagi siswa di Jakarta, pembelajaran Home Learning mungkin tidak terlalu sulit karena didukung dengan berbagai fasiitas yang tersedia, mulai dari computer, tablet, jaringan listrik dan jaringan internet yang stabil. Namun, jangankan internet, di beberapa daerah ada yang belum teraliri listrik.

Pada materi penulisan online ini, Om Jay selaku penggagas, menyatakan bahwa ada seorang peserta seminar di NTT yang bertanya kepada beliau. Menurut penanya tersebut, sekolahnya di pelosok sehingga listrik hanya menyala pada malam hari.  Jaringan internet juga tidak stabil. Pembelajaran dalam jaringan mudah-mudahan bisa dilakukan jika kondisi listrik sudah 24 jam, atau sinyal internet sudah stabil plus ada bantuan komputer atau minimal tablet dari pemerintah. Sehingga penanya tersebut menanyakan apa yang bisa dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran daring? Para peserta pelatihan diminta untuk mendiskusikan permasalahan tersebut. Dari sekian banyak peserta yang mengikuti pelatihan, berikut beberapa pendapat yang menurut saya relevan dengan situasi tersebut.

1.      Menurut saya tidak perlu dipaksakan pembelajaran online kalau keadaan tidak memungkinkan. Kasih penugasan rumah saja. Kumpulkan saat masuk sekolah. Mungkin begitu pendapat saya.
2.       Belajar sekedarnya saja, tidak perlu terlalu dikendalikan. Beri siswa kebebasan untuk belajar dengan caranya sendiri.
3.    Guru siapkan amplop amplop materi, serahkan kepada ortunya... berikan satu amplop 1 hari tentang materi tersebut dan jadikan project.
4.   Dalam pembelajarannya  jaga kesehatan membuat laporan portofolio menuliskan menurut bahasa siswa materi yang telah dibaca, membuat mind map bacaan,  apapun bisa siswa diberikan tugas. dikumpulkan pas ketemu. apabila tak ada sarana listrik...pas online infokan ke grup siswa.
5.   Selama 14 hari, guru bisa membuat aplikasi merdeka belajar...bisa dibuat inovasi pembelajaran😄..untuk lomba inobel tahun 2020, mantaap ini..
6.       Saya teringat materi dari kepala pusat bahasa Gorontalo. Biarkan anak menulis, kalau sudah menulis, sudah tentu nilainya 100 karena, memberi arti bahwa dia telah banyak membaca.
7.       Saya akan perjuangkan Sapras tsb ada di daerah saya, Listrik melalui PLN atau kementerian ESDM , Minimal tenaga Surya, Utk internet akan di upayakan antena satelit, Demikian jawaban sementara Om.Jay
8.       Itu tantangan untuk menciptakan sumber listrik mandiri dari tenaga surya (jangka panjang-gak bisa instan)
9.    Menurut pendapat saya, kita tidak usah memaksakan diri utk melakukan pembelajaran daring bila belum siap. Baik itu siap dr sarananya (listrik, alat - alat TIK, dan jaringan), dan belum siap krn kompetensi guru dlm menggunakan TIK masih terbatas. Pembelajaran daring adalah salah satu opsi. Bukan satu - satunya.
10.   Guru membantu siswa membuat laporan  diari setiap hari. di kertas hvs.. tanggal 14-31. ttg apa yg dipelajari dirumah.
11.   Menurut saya untuk kebutuhan listrik memang berat, kecuali sdh ada alternatif sumber energi yg tidak bergantung pada pemerintah. Pernah lihat di TV ada wanita pelopor energi alternatif yg sdh keliling dunia, tp persisnya dari mana lupa. Untuk tablet sebetulnya bisa menggunakan dana bantuan pemerintah yg tahun ini dinaikkan nominalnya. Tentu saja setelah pembiayaan guru honorer sdh terpenuhi secara optimal dan maksimal. Dg catatan tidak ada lagi sulap menyulap SPJ ataupun mark up anggaran/pembelanjaan.
12.   Jawaban satu lagi Om... Gunakan wifi tanpa jaringan internet.
13.   Bisa juga dg metode kaya' kita sekarang di grup ini. Kita menggunakan WA Group.
14.   Beli genset utk solusi masalah Listrik.
15.   Usul sarpras surya panel, lebih ekonomis, rakit sendiri lihat di youtube.
16.   Tidak semua anak di sekolah saya yang orang tuanya memegang hp android, jadi ketika sekarang ada libur 2 minggu saya kasih tugas tiap hari lewat WA dengan mencantumkan hari dan tanggal dan meminta tolong agar temannya memberitahukan teman yang tidak punya hp tersebut. Tugas tentunya materi yang sudah dipelajari.
17.   Betul, kami yg dipelosok negeri blm ada apa", tahun lalu sdh ada bos afirmasi tp sampai saat ini blm ada info bos afirmasi cair atau dananya dikembalikan.
18.   Atau temui Pemerintah kabupaten, OPD kominfo, esdm, PLN ... Minta saran terbaik dari para ahli disana, saran yang lengkap dan bisa di wujudkan, agar PBM yang diharapkan bisa terselenggara,
19.  Anak menulis pakai buku tulis yang ada, biarkan mereka berkarya...apapun tulisan mereka beri penghargaan, berikutnya akan lebih bagus lagi.
20. Menurut saya tetep tidak efektif, apalagi medianya hanya menggunakan chat whatsapp, karna konsentrasi anak akan jauh berbeda dengan ketika tatap muka.
21. Peran guru sangat diharapkan. Karena internet hanya malam 1.materi yang akan diajarkan di download dulu. Jadi ketika di kls. sdh bisa di sampaikan secara off line.
22.   Pembelajaran secara online. Karena internet hanya pada MLM. Kita bisa pembelajaran secara online MLM hari. itulah kemudahan teknologi tak ada lagi batasan waktu dan jarak.semua bisa dikafer. Tergantung kreatifitas dan bagaimana kita menyikapi sebuah kekurangan
23. Ajukan proposal untuk program CSR kebeberapa perusahaan, ad bbrp yg mw suport full ttg peningkatan fasilitas sekolah, bahkan sampai proses penjaminan mutu sekolah.
24.   Jika sarana pendukung (listrik,koneksi internet,komputer/lptop) sdh siap langkah selanjutnya adalah mempersiapkan guru2 yang akan menyampaikan materi secara daring.komunikasikan media apa yg cocok digunakan. Apakah pakai aplikasi e-learning yg sdh ad atau media lain yg dirasa mudah diterapkan.
25.   Pembelajaran dlm jaringan saat ini sangat penting diterapkan.trutama utk stuasi2 tertentu.
26.   Buat form lembar tugas , ala agenda ramadhan,, bagikan kpd siswa, Jika tdk ada perangkat.
27.  Hal yang saya lakukan mengajukan proposal untuk mohon bantuan kepada pemerintah minimal dinas pendidikkan untuk ikut membantu demi kemajuan pendidikkan dan berkualitas.
28. Siswa bisa belajar computational thinking materinya ada di buku Informatika yang diterbitkan Penerbit ANDI Yogyakarta.
29.   Saya setuju sarana & pra sarana sangat dibutuhkan utk pembelajaran daring apalagi daerah yg belum terjangkau internet perlu dipersiapkan oleh pemerintah/masyarakatnya terlebih dahulu.
30. Makasih Kesempatannta Om J. menurut pengamatan dan pengalaman lama, ada 3 cara yg dpt ditempuh: 1. Japen 2 jamen dan 3. Japang. Japen: libatkan pemuka kampung/ msy kaya dg infak wajib 1 HP   untuk mendanai satu rumah warganya yg sekolah. 2. Dengan menjalankan sumbangan sukarela ke perantau Maluku di luar daerah di perkumpulannya. 3. jangka panjang, pembrrdayaan warga kampung sendiri dengan sistem simpanan bajapuik berupa beras genggam atau uang recehan, di gabung perpekan lalu dibelikan hp dg sistem arisan . cara pertama telah dilakukan oleh pemuka msyrkt  Pandam Gadang suliki di saat membiayai kuliahnya Tan Malaka ke Belanda, atas usul Bu Horensma, nama yayasan itu Engkufonds..
31.  Apakah siswa sebagian besar punya HP? Jika YA : Berikan tugas membuat vlog 5 menit apa saja yg mereka pelajari sesuai materi per hari. Bentuk tugas bisa individu/kelompok. File video dikumpulkan ketika masuk sekolah. Jika TIDAK : Siswa diminta mengumpulkan resume/mind mapping materi per hari di selembar kertas/di buku catatannya.
32.  Saya mencoba menceritakan pembelajaran yang digagas sekolah TK anak saya: sekalipun ditempat kami berada saat ini listrik dan jaringan cukup baik, namun kondisi ekonomi yang beragam membuat pembelajaran daring sulit untuk dilakukan. Solusi dari sekolah adalah memberikan cetak tugas kepada orang tua, dan orang tua diminta bekerjasama mengatur ritme belajar siswa. Demikian pengalaman yang saya peroleh dari sekolah anak saya.
33. Ditempat saya banyak sekolah dan sd, smp, dan sma yg tidak terjangkau oleh sinyal enternit d listrik.. Tetapi dtahun 2019 mereka jg bisa melaksanakan unbk... Dengan adanya kontrak pemda dengan pln d TELKOMSEL... Daerah saya Balangan kaya dengan tambang batubara..
34. Kalau mnurut saya...kita harus memperhatikan karakteristik siswa. Contohnya d sekolah saya tidak semua siswa punya hp...kadang ada yg punya hp namun paket datanya g ada... Karean perekonomian kita yg berbeda beda..
35.  Kita tidak bisa memaksakan satu metode ke semua siswa...dan juga kita harus bersikap adil. Apalagi mengingat hanya d liburkan selama 2 minggu. kurang lebih kita hanya kehilangan 2-3   kali pertemuan... Biarlah siswa belajar dengan cara mereka sendiri... Cukup hanya pemberian tugas/pr utk memperdalam materi yg telah lalu
36. Kalau di SD, libur 2 minggu, berarti guru kelas kehilangan 12 pembelajaran (krn 1 hari 1 pembelajaran)
37.  Menurut saya cara yg paling efektif adalah dengan membuat kumpulan lembar kerja peserta didik untuk setiap harinya. karena pengalaman stelah sehari ini mengadakan kelas virtual masih ada beberapa siswa dan orang tua yg belum memberikan perhatian terhadap tugas online yg diberikan.
38. Saya kab.Balangan..Kalsel.. Kab. Baru dresmikan.. Dekat dengan wacana ibu kota pindah.. Itu sekitar  30 km dari tempat saya.. Dtempat saya masih banyak masyarakat nya yg tdk tersentuh dgn pendidikan.. Aparat d pegawai nya rata 2 pendatang.. Bahkan hampir sama 80 persen dari jawa..
39.  Kebetulan ditempat kami jaringan internet lumayan stabil tp  sarana tdk memadai. Tdk semua wali murid punya HP jd utk pembelajaran daring kita kesulitan.  Solusi yg kita ambil  memberikan tugas utk d kerjakan d rmh.
40.  Menurut saya,,, saya juga mengajar didaerah yg jaringan boleh dikatakan tidak ada,,, hal yang saya lakukan adalah saya bekerjasama dg orang tua,,,, meminta orang tua memantau anaknya dalam belajar,,, buku belajar saya berikan ke anak, setiap hari anak menulis informasi  penting yg terdapat pada bacaan yg dibacanya dg bahsa sendiri,,, sehingga 12 hari libur berarti siswa tetap belajar,,,namun setiap hari kita kontrol orang tua dg nelfon atau sms,,,, karna ada sebagian orang tua hp nya tidak ada wa,,,memang butuh usaha dan pengorbanan,,, nanti kalo sudah skolah kita lihat semua tugas siswa,,, mana yg rasanya kurang dipahami anak, itu yg kita diskusikan.
41.  Menurut saya guru merencanakan dulu tugas yg akan diberikan. Dan di share lewat WA.  Jika tdk punya hp diberitahu teman yg rumahnya dekat ( sebagai pendidikan karakter.) Peserta didik mengerjakan tugas.  Dan dikumpulkan jika sudah masuk sekolah. Jika listrik tdk ada. Datang ke tetangga terdekat. Dan minta ijin yang punya listrik dan jaringan Wi-Fi . Untuk menyelesaikan tugas. Karena ekonomi peserta didik berbeda antara satu dengan yg lainnya.
42. Hhmm..iya bu saya lupa mempertimbangkan yg SD. Walaupun demikian menurt saya juga tidak perlu dipaksakan merekan utk belajar...apalagi masih SD..mnurt perkembangannya...meman masa2 mereka sangat gemar utk bermaian...apak efektif jika digunakan metode daring ke mereka?
43. Kalau di saya tidak efektif. Krn gurunya saja tidak paham ttg pembelajaran daring, sekalipun pakai WA. Apalagi siswanya. Latar belakang ortu sebagian besar petani. Yg punha hp android dalam satu kelas, paling 2 - 3 orang tua. Anak tidak punya sama sekali.
44. anak didik bekerja sesuai hobinya permapel dalam bentuk karya keterampilan jadi dan bentuk laporan tertulis sederhana langkah kerjanya.
45. Metode daringnya lewat WA aja, diberi tugas orangtuanya juga ikut menyimak dan membimbing, kalau anak sudah menyelesaikan tugas dari guru orangtua langsung menandatangani.
46.   Belajar sambil bermain saya rasa masih efektif untuk anak di tingkat sekolah dasar.
47.   Betul pak naf, kalau saya sengaja ngasih tugasnya lewat WA biar ortunya juga ikut berpartisipasi krn tugas saya usahakan tiap hari, sejauh ini walau masih satu hari orang tua selalu respon dan menyetor hasil tugas anaknya, tentunya ada tanda tangan ortunya, semoga lancar sampai 2 minggu kedepan. Dan ketika nanti masuk tugas anak2 lengkap😁
48. Ank ank tdk semua punya HP. Krn zonasi. Jd guru hrs pinter menyesuaikan kondisi peserta didik. Nah td pagi kita breefing antara kepsek, guru & seluruh karyawan dlm rangka menyikapi kebijakan pemerintah. Khususnya wilayah kami. Nah, dengan situasi yg mendadak, & tidak semua punya gedget, WA & medsos yg bisa berpetualang di dunia maya, maka Bpk kepsek & kesepakatan bersama, semua guru langsung saat itu membuat penugasan yg bersifat pembelajaran dan bisa dikerjakan di rumah masing-masing peserta didik, tanpa hrs keluar rumah.
49.   Pembelajaran yg dilakukan ditulis atau diketik kemudian diserahkan kepada kurikulum.
50.   Kurikulum setelah terkumpul semua rencana pembelajaran yg dibuat oleh guru, untuk pembelajaran di rumah tsb, kemudian dishare ke wali kelas. Wali kelas menjelaskan & menginformasikan ke peserta didik, juga kepada wali murid di kelasnya. Tugas & materi pembelajaran yang diberikan, boleh di rumah, bila telah selesai bisa langsung dikirim ke guru jika punya medsos. Lewat Whatsapp misalnya.

Begitulah kira-kira solusi yang diberikan oleh para peserta pelatihan menulis. Mudah-mudahan bisa memberi gambaran bagi kita jika berada di suatu wilayah yang tidak memiliki listrik ataupun jaringan tetapi harus melakukan pembelajaran dalam jaringan ataupun pembelajaran jarak jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlibur Ke Pantai Jetis

Oleh :  Adinda Chintya Ariyanto Kelas : 6A SDN Harapan Mulia 03 Pada hari Kamis tepat saat libur sekolah, aku dan keluargaku be...